"TITIK KRISIS"

Mengajak anda menuju langsung ke Pusat Krisis

My Photo
Name:

Anda telah memasuki mata hati kami. Adalah bijaksana untuk tetap berada di dalamnya. Jika anda berpaling kami tidak menjamin anda kembali seperti semula. "The world is waiting for you"

Thursday, December 02, 2004

Panser Globalisasi : KIAMAT di INDONESIA

Seperti biasanya malam itu saya dan rekan saya mengakhiri hari di warung kopi pinggir jalan asyik membicarakan tentang Amerika yang membombardir Iraq. Saat itu saya pikir saat yang tepat untuk memanfaatkann emosi rekan saya ini dengan bertanya bagaimana ya seandainya Amerika menyerang Indonesia?

Dengan penuh semangat nasionalisme kebangsaan yang mendadak itu dia menjawab, “Amerika nggak mungkin berani nyerang kita (-Indonesia), tempat kita aja kan banyak hutan pasti takut sama perang gerilya. Kan pernah waktu jaman Belanda..bla..bla..bla”

Sebenarnya saya bisa saja bilang bahwa jaman Belanda beda dengan jaman sekarang yang semuanya serba rudal, serba jarak jauh, serba teknologi tinggi. Tapi sayang sekali rasanya jika momen diskusi kecil ini saya sia-siakan dengan jawaban instan dan tidak kognitif (tidak membangun) seperti itu yang hanya akan menjatuhkan rekan saya itu. Teringat kata-kata guru saya , “janganlah kamu menyia-nyiakan (menelantarkan) orang yang kamu bertemu dengannya”

Maka saya memutuskan untuk bersikap sebijaksana mungkin dalam menjawab masalah ini. Dengan nada ekstrim saya jawab, “Ah, siapa bilang Amerika tidak bakalan nyerang kita. Asal tahu aja Amerika itu udah nyerang kita dari kemarin-kemarin”. Rekan saya mulai terpaku dengan pendapat saya yang ‘tidak umum’.

Dengan posisi di atas angin saya pun melanjutkan,
“Anda jangan salah, Amerika itu ngga bakalan capek-capek ngebom Indonesia. Kenapa musti di bom? Hutannya aja banyak, tambangnya luas, hasil alamnya aja membludak. Rugilah kalau dibom, mendingan dikuasai atau dimanfaatkan sama Amerika. Dan itu sudah terjadi sekarang. Perlahan-lahan Amerika mengambil alih Indonesia. Meskipun belum 100%, tapi rencana untuk itu sudah berjalan. Dan kalau Indonesia sudah diambil alih maka inilah yang dimaksud penjajahan atau invasi yang sebenarnya. Anda, saya dan seluruh bangsa Indonesia”.

Seluruhnya kah ?? Tunggu dulu...

Ketika itu saya diajak teman saya ke Bank BCA di daerah Bogor. Bosan menunggu teman saya yang larut dengan urusan bank. Saya memilih berdiri di depan pintu daripada berbengong ria di kursi tunggu. Saya dekati pak satpam yang berdiri bagai patung sesekali melempar senyum ke pengunjung.

Dalam hati saya bertanya-tanya orang ini pasti bukan satpam biasa ini terlihat dari cara dia bertugas dan menyambut pengunjung layaknya customer service, penuh intelektual dan skill tata krama. Bicara punya bicara terungkaplah dia adalah sarjana lulusan Universitas Indonesia jurusan sosial. Katanya dulu pernah bekerja di suatu Bank di Jakarta sebagai marketing tapi sialnya terkena restrukturisasi. Beralih menjadi satpam karena sudah mencoba melamar untuk pekerjaan yang cocok tapi tak ada panggilan. Akhirnya ia terpaksa memutuskan menghadapi realita hidup. Life Must Go On !

Dalam kesempatan lain pun saya dengar gosip bahwa satpam di Bank Indonesia, Jakarta pun kebanyakan lulusan universitas negeri, dan sarjana juga ! Tibalah pada suatu pertanyaan yang sempat mengganjal di hati saya. Entah, mungkin bagi sebagian orang masalah adalah hal biasa: orang butuh kerja.

Tapi kenapa saya merasa masalahnya tidak sesedehana itu. Melalui perjalanan panjang proses pencaritahuan akhirnya saya rasa telah menemukan jawaban atas teka-teki ini. Saya mulai merangkai petunjuk-petunjuk ini dan mengarah ke satu titik permasalahan, yaitu WTO! (World Trade Organization). AFTA, NAFTA dan APEC. Era Pasar Bebas.

Sejak kemerdekaan bangsa ini diproklamirkan, kita belum pernah sekalipun lepas dari belas kasihan (bantuan) dari pihak lain. Dengan kata lain, ketergantungan adalah keahlian nomor satu bangsa terbesar di Asia Tenggara ini. Apa jadinya jika tentara sekutu tidak membomatomkan Jepang ? Kita tidak pernah merdeka seperti gambaran proklamasi itu.

Dan benarkah setelah itu kita merdeka ? Sejak berakhirnya perang dunia kedua, semasa perang dingin penjajahan tidak lagi berjalan di atas roda meriam dan panser. Model baru dari penjajahan yang lebih santun telah ditemukan : di atas roda politik dan roda ekonomi.

Saat itu sistem penjajahan tidak lagi secara fisik bahkan dengan santun pula memaksa kita, pilih dibantu Blok Timur (era Orde Lama) atau dibantu Blok Barat (era Orde baru). Di tengah-tengah itu berhembus teori yang mengatakan bahwa bangsa-bangsa Negara berkembang harus sesegeranya menjemput menjadi bangsa yang modern (modernisasi). Siapa model untuk itu ?

Dengan dalih mengantarkan bangsa ini menuju masyarakat modern yang mana ketika itu isu modernisasi & industrialisasi ditiupkan sebagai gelombang dari mainstream standar kemajuan masyarakat dunia maka dimulailah korporasi atas-bawah melalui World Bank (IGGI, IMF) , yaitu Indonesia menerima pinjaman alias berhutang kepada masyarakat ekonomi (Blok) Barat.

Tidak perlu berlama-lama saya menceritakan sejarah Indonesia-IMF ini maka cukup saya ringkas yang namanya hutang adalah : Dusta di kala siang dan gelisah di kala malam. Apalagi dengan total beban sekitar 132 Milyar US Dollar!

Bagai kerbau yang dicocok hidungnya dengan mudahnya kini negara-negara Barat mendikte Indonesia melalui agenda udang dibalik batunya, yaitu: Indonesia mau tidak mau wajib menyepakati agenda pasar bebas (WTO) Dan ini sudah terjadi!

Mungkin anda-anda tidak mau ambil pusing dengan masalah ini karena anda sendiri sudah pusing dengan masalah pribadi anda. Tetapi hanya sekedar mengingatkan bahwa masalah apa pun yang terjadi dalam hidup anda sampai detik ini sekalipun itu masalah pribadi tidak terlepas dari agenda akbar kapitalis ini. Anda akan menyesal jika mengabaikannya..

Saya katakan saja jikalau hari ini anda dan saya dalam hal ini sebagai masyarakat kelas dua yang masih bisa menyisakan malam hari untuk bersenda gurau di internet atau masih diberi keleluasan untuk memikirkan dan menikmati musik, acara televisi atau berdebat seru dengan seribu wacana yang utopis (memusingkan).

Jikalau hari ini anda dan saya tidak kesulitan untuk mengahbiskan 50 ribu di supermarket atau kongkow-kongkow di Mc Donald atau bercanda di warnet. Singkatnya , semahal apa pun barang-barang hari ini kita masih sanggup membeli. Maka jangan heran, jika program-program globalisasi WTO seperti AFTA mulai berjalan, maka.. semua barang akan murah, tapi ironisnya saat itu anda malah tidak bisa membeli apa pun!

Mengapa demikian? Untuk menggambarkan AFTA yang akan hadir dalam beberapa tahun ini (2007, dan telah berjalan beberapa persiapannya) cukup sederhana saja: Jikalau anda hari ini membeli produk luar negeri dengan harga mahal, itu disebabkan barang tersebut dikenakan bea masuk barang yang sangat tinggi.

Gunanya adalah untuk melindungi produksi dalam negeri agar masyarakat lebih banyak yang membeli produk negeri sendiri karena murahnya. Sekaligus merangsang produsen-produsen dalam negeri agar lebih produktif. Produktifnya produsen dalam negeri berarti kesempatan kita untuk bekerja dan produktif. Ini yang disebut dengan proteksi.

Dengan demikian maka proses pemasokan/impor barang dari luar negeri harus melalui prosedur berbelit-belit (seperti bea cukai, dll)

Tapi ketika AFTA datang, semuanya jadi sederhana. Transit beras dari India ke Indonesia tidak ada bedanya sama sekali dengan transit beras dari terminal Cianjur ke pasar-pasar induk Jakarta, Bandung atau Bogor. Sama-sama bebas cukai!

Hubungan dagang transnasional/internasional menjadi sangat sangat sesederhana seperti ketika kita pergi ke warung atau kita menjual dagangan di pasar. Tidak dihalangi birokrasi dan prosedur.Prinsipnya adalah kebebasan ekonomi (Economic Liberty) yaitu kegiatan ekonomi harus bebas rintangan dalam operasinya. Penghapusan cukai/tarif merupakan bagian dari kebijakan WTO yang akan merugikan kita manakala kita tidak siap.

Secara relatif mengapa merugikan kita?
Harga beras di Indonesia sudah tidak ada lagi yang melindungi. Parahnya jumlah produksi beras di Indonesia kalah banyak jumlah produksinya dengan India. Berlakulah prinsip ekonomi dan prinsip dagang: siapa yang memproduksi paling banyak maka dialah yang bisa menjual paling murah. Siapa yang bisa menjual paling murah maka dia yang menjual paling banyak. Siapa yang bisa menjual paling banyak maka dialah yang bisa kembali modal untuk membiayai produksi berikutnya.
Prinsip ini adalah kata kunci untuk memahami aturan main pasar bebas (globalisasi)

Dengan demikian, India dengan produksi beras melimpah akan mendominasi pasar di Indonesia dengan harga beras yang paling murah sehingga masyarakat Indonesia pun memilih konsumsi beras India. Apa artinya ?Petani Indonesia tidak bisa menjual berasnya dikarenakan produksinya yang sedikit yang mengakibatkan harga jualnya yang mahal. Tidak ada yang mau membeli ! Akhirnya, daripada kelaparan petani TERPAKSA memakan berasnya sendiri!

Akibatnya petani Indonesia perlahan-lahan tidak akan mampu berproduksi lagi. Kondisi ini didukung pula oleh nasib petani Indonesia yang tidak terdidik atau difasilitasi keahlian teknologi produksi modern yang notabene ketinggalan dari luar negeri.

Dengan kata lain, petani telah ditelantarkan.Ini adalah tahap pertama dari globalisasi : TRANSFER PRODUK

Lalu apa hubungannya beras, petani dengan nasib negara Indonesia ?
Beras adalah salah satu contoh fundamental dari korban AFTA (pasar bebas skala asia) dan masih banyak lagi aspek-aspek lainnya. Dengan datangnya AFTA ini berarti wujud nyata dari kebebasan ekonomi, yaitu kebebasan negara-negara kapitalis memproduksi dan memasarkan barang.

Tapi yang namanya kebebasan satu selalu akan menjadi batasan bagi yang lain.

Warteg dan McDonald misalnya. Pada saat dihapuskannya tarif/bea masuk di era AFTA maka jangan heran jikalau anda melihat harga menu-menu Mcdonald jauh lebih murah daripada sekarang. Bisa saja setara menu di warteg, bisa jadi pula lebih murah dari harga warteg ! (dalam satu kasus perbandingan silahkan anda temui burger emperan dengan harga 6 ribu atau 5.500 sementara McDonald dengan kekuatan sistem dan produksinya sanggup menjual berbagai menu variatif seharga 5 riburupiah, selain murah, kebersihan, kenyamanan dan kepraktisan pun menjadi nilai plusnya. Dengan warteg silahkan bandingkan sendiri )

Maksudnya adalah ketika era AFTA nanti, warteg & pasar tradisional akan bersaing dengan fastfood & pasar-pasar modern (asing). Dengan bekal teknologi industri canggih dan sistem yang solid maka produsen-produsen asing akan lebih dominan dalam memproduksi barang-barang yang banyak, berkualitas dan murah.

Tapi sebaliknya dengan bekal kemampuan produksi yang apa adanya maka produsen lokal hanya mampu memproduksi sedikit barang yang berakibat mahalnya harga jual karena harus menutupi ongkos produksi. Barang sedikit otomatis harga mahal.

Jika biaya produksi saja sudah kewalahan jangan harap bicara tentang biaya peningkatan mutu. Barang mahal dengan mutu produksi rendah sudah pasti tidak laku. Bila kondisi seperti ini terus lama kelamaan produsen lokal akan mati. Dan produsen asing akan semakin banyak merajalela ke Indonesia untuk mendominasi pasar. Pada gilirannya menjamurlah perusahaan-perusahaan asing di Indonesia, saat itu diperkirakan sumber-sumber produksi dalam negeri sudah mati disapu asing. Ini berarti kematian bagi bangsa Indonesia.

Matinya kesempatan kerja bangsa Indonesia di Negerinya sendiri!
Matinya kesempatan bangsa indonesia untuk berproduksi di negerinya sendiri!
Matinya kesempatan bangsa Indonesia untuk mengelola negerinya sendiri!
Atau dengan kata lain, Bangsa indonesia menjadi konsumen di negerinya sendiri !
Anda tidak dapat menghasilkan uang (berproduksi) tapi anda mau tidak mau harus mengkonsumsi. Kemampuan serta daya beli anda menurun tetapi anda harus membeli untuk menutupi segala keperluan survival anda….
Semua barang murah tapi justru daya beli anda menurun The Death of Economics. Maka inilah yang dimaksud dengan KIAMAT di INDONESIA, GEMPA BUMI SISTEM !

Kandasnya lahan kerja di Indonesia bagi masyarakat lokal?
Belum tentu, lahan kerja tetap ada dan banyak. Bila makin banyak perusahaan asing yang masuk tentunya ada kesempatan yang banyak pula.

Yaa.. kesempatan itu adalah bekerja sebagai satpam, cleaning service, tukang kebun, tukang kemas, kurir, caddy golf, dan sebagainya.

Akhirnya terjawablah mengapa para sarjana itu memilih jadi satpam.

Saya katakan pahitnya saja bahwa seberapa pun tingginya gelar anda hari ini sarjana, doktor, professor, dokter, insinyur atau apa pun maka pada level intelektual itulah anda akan dicampakan atau tidak akan berguna sama sekali bagi korporasi-korporasi asing.

Bila hari ini anda masih dapat bekerja di perusahaan lokal maka tidak lama lagi perusahaan lokal itu akan jatuh ke tangan asing sebagai akibat dari kebijakan WTO yang membebaskan hak kepemilikan saham perusahaan lokal oleh asing.

Pada saat itu jikalau masih ada perusahaan lokal, cepat atau lambat akan mati disapu atau diakuisisi oleh perusahaan asing. Dengan jatuhnya perusahaan lokal ke tangan asing maka berarti asing berhak menentukan manajemennya (transfer manajemen) dan memilih karyawan-karyawan potensialnya yang sudah pasti mengimpor rekan-rekan asingnya yang seide, sepaham dan tentunya telah terdidik & terkenal profesionalismenya. Atau dengan kata lain level manajerial dalam korporasi sudah pasti akan di dominasi oleh SDM asing (kaum ekspatriat)

Maka jadilah nasib intelektual indonesia seperti mati segan, hidup tak mau. Bertitel tinggi tapi kesempatan yang ada hanya jadi satpam, cleaning service, caddy golf..! Artinya, kesempatan menjadi tenaga kerja kelas bawah yang harus mau diupah murah !

Kenapa demikian?Sebab saya dengar di Jepang saja orang yang main golf harus mengambil bolanya sendiri. Karena, memang untuk mengupah seorang caddy golf atau kurir sangatlah tinggi. Begitu juga di Amerika atau Eropa, standar cost (living cost) SDM di sana sangat tinggi sehingga korporasi lebih memilih mengirit karyawan..

Dan ketika itu nanti terjadilah tahap kedua globalisasi : TRANSFER SDM (Transfer Tenaga Kerja Asing di Indonesia ).

Transfer tenaga ahli, pakar, professional dan manajerial untuk mengambil alih komando ekonomi di Indonesia. Untuk menjadi majikan atas nasib anda, tenaga kerja murah di Indonesia. Tenaga kerja yang tidak memiliki hak untuk menegosiasi nasib dan harga dirinya. Duduk sama rendah, berdiri tetap rendah.

Demikianlah inti dari apa-apa yang disebut era globalisasi, di mana mulai terbukalah pasar-pasar dari perusahaan milik negara-negara kapitalisme secara mengglobal, mendunia.
Era pasar bebas, di mana kebebasan hanyalah milik negara kapitalis dan bukan rakyat. Bangsa anda, Bangsa Indonesia hanya akan menjadi penonton di negeri sendiri. Berbanggalah menjadi Bangsa Indonesia.

Maka inilah yang dimaksud dengan :Bangsa Asing kembali menguasai total Indonesia Tidak perlu bom untuk menaklukan Indonesia yang berhutang 1000 trilyun rupiah. Indonesia hari ini sudah takluk di bawah kaki kapitalis.

Dengan hutang sebesar itu cukuplah untuk menyerahkan pengelolaan sumber daya alam Sumatera, Kalimantan dan Irian ke tangan asing sebagai jaminan. Ditambah lagi dengan biaya operasi militer di Aceh yang sedemikian besar, biaya pemulihan Aceh, biaya penyelenggaraan pemilu, biaya ini, biaya itu yang fana dan tidak perlu Indonesia sudah luka parah dan terpuruk sebelum sempat dihantam gelombang globalisasi nanti. Kalah sebelum berperang.Anda dikuasai lawan karena anda tidak menguasai diri anda. Anda tidak tahu keinginan anda.

Sudah nampak peta masa depan kehidupan anda di sini?
Sudah nampak pekerjaan besar di depan mata?
Masih mau berpikir bagaimana nasib karir intelektual, retorika dan wacana sakti anda sebentar lagi dihadapan panser-panser globalisasi ?

Bila KIAMAT INDONESIA datang, maka terbuktilah apa yang telah diwasiatkan oleh Nuh. “Globalisasi ibarat banjir besar yang menghantam ke segala arah.
Nuh tidak akan pernah membuat bahtera jika ia tidak tahu perihal datangnya banjir itu. Nuh membuat bahtera karena ia tahu banjir itu dan apa banjir itu. (man of vision). Maka ketika banjir globalisasi datang nanti benarkah “bahtera Nuh” sudah siap sedia di atas bumi hari ini ? Benarkah ada mereka yang telah berpandangan jauh tentang kedatangan gelombang ini ? Bukalah pikiran anda seluas-luasnya dan pikirkan, itu tugas anda”.

--------------------------------------------------------
Bagaimana kamu akan melawan musuh mu jika kamu tidak tahu siapa musuh mu. Lawanlah ketidakpengetahuanmu ! Kenali ! dan itu bukan harga yang sedikit.

Wednesday, December 01, 2004

Ketika harus Membayar Mahal untuk Tidak Terdidik

(Topik ini merupakan lanjutan dari topik Filosofi Penjajahan)

"Percayakah anda jika saya bilang bahwa ternyata hari ini kita harus membayar mahal untuk tidak berpendidikan..?"
Apa yang terlintas dibenak anda sekalian ? Jujur saya katakan seperti hidup di neraka (neraka dunia). Lingkaran setan. Waduuh.. serem banget. Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti anda tapi untuk menalarlogikakan fenomena yang menimpa kita ini secara sederhana. Sangat nyata dan tidak basa-basi. Semoga anda kuat menerimanya.

Dulu semasa sekolah atau kuliah kita biasa dengar ucapan seperti ini: “kita kuliah untuk apa sih? cari kerja ? kerja aja belum tentu sesuai dengan bidang kuliah kita jadi kita kuliah di jurusan ini untuk apa dong?” Inilah fenomena yang sangat umum ketika kita bergabung dengan suatu institusi pendidikan. Ada kesan “penelantaran’. Benarkah demikian ?

Sesungguhnya anda tidak ditelantarkan justru anda sangat diperhatikan. Bukankah dengan menjamurnya institusi pendidikan di Republik Indonesia ini berarti bukti bahwa pemerintah sangat sangat peduli dengan pendidikan anak bangsa. Seharusnya kita harus bangga tetapi mengapa pada kesehariannya kita masih juga bingung ? Kekhawatiran anda sangat beralasan sebab bukti mengatakan bahwa di Republik ini setiap tahun melahirkan banyak sarjana dan master tapi lahan pekerjaan semakin sedikit. Wah..

Ternyata selama ini kita telah salah kaprah dengan kepedulian pemerintah itu, sarjana yang lahir tiap tahun itu tidak lain adalah korban komoditas dari ulah institusi pendidikan. Ketika masa pendaftaran mahasiswa baru tiba yang dilihat oleh institusi pendidikan bukan datangnya sumber daya manusia baru (kader-kader pembangunan) tetapi : Kantong anda !

"Anda punya uang, kami beri anda titel. Anda boleh kuliah, boleh tidak. Suka-suka anda. Kami tidak peduli anda mau pintar atau tidak. Kami tidak peduli anda mau bermoral atau tidak. Kami tidak peduli anda besok bisa bikin apa. Yang penting anda bayar, kami untung. Jangan lupa, biaya sudah termasuk pajak untuk kami setorkan ke pemerintah".

Jadi jika anda ingin melihat seberapa besar institusi pendidikan diuntungkan kita lihat saja berapa sarjana yang mereka hasilkan setiap tahun. Lho, malah jadi seperti meriset perusahaan unilever, kalau ingin melihat omset perusahaan tinggal hitung berapa pasta gigi yang terjual.

Demikianlah paradigma pendidikan di republik ini, manusia tidak lagi dipandang sebagai SDM (atau kader pembangunan) tetapi sebagai ‘konsumen’. Sistem pendidikan di Republik ini tidak mencetak siswa untuk pintar atau produktif karena memang tidak diarahkan untuk itu. Kiblat dari sistem pendidikan ini adalah dua : kas pengelola institusi dan kas Negara. Pada akhirnya kita melihat peranan sistem pendidikan yang ternyata tidak jauh beda dengan outlet Mc Donald!! Profit oriented. Anda tidak perlu heran dengan itu karena memang republik ini punya masalah berat dengan keuangan. Suka tidak suka keuangan adalah denyut jantung terselenggaranya suatu Negara. Singkatnya anda tinggal di Negara yang bermasalah maka apapun yang terselenggara di dalamnya pasti bermasalah. Maka adalah ajaib jika hari ini anda tidak bermasalah.

Masalah yang datang sebagai dampak ‘sampah intelektual’ itu semakin bertumpuk dari waktu ke waktu. Para sarjana dan master yang seharusnya sebagai agen perubahan, kini tidak lagi bisa merubah. Mereka justru yang terubah. Mereka tidak diarahkan untuk membangun lapangan pekerjaan baru, tetapi justru mengharapkannya. Seandainya pun bisa, lapangan pekerjaan yang mereka hasilkan adalah sesuatu yang umum yang hanya cukup sekedar memberi pekerjaan, minimal untuk diri mereka sendiri dan tidak memberikan perubahan yang berarti dalam masyarakat. Kita sudah dididik untuk saling bersaing di dalam negeri sendiri! Kita tidak dididik untuk bekerja sama. Dan jika bicara soal persaingan, kita sudah salah alamat. Pesaing kita sebentar lagi akan datang berbondong-bondong dari negeri seberang dengan sedikit orang dan penuh persiapan (era pasar bebas). Dan kita para sarjana dan master siap-siap untuk berebut posisi menjadi tukang sapu, tukang kemas atau satpam mereka. Lapangan pekerjaan yang kita bangun susah payah, jika tidak diambil alih minimal tersaingi dengan kecanggihan dan kemurahmeriahan mereka. Titel yang kita peroleh hanyalah bernilai nol di depan mata mereka. Easy come, easy go.

Sistem pendidikan di republik ini sudah sangat salah kaprah. Maka pantaskah jika hal tersebut kita sebut ‘sistem pendidikan’ (education system) ? atau lebih tepatnya ‘sistem ketidakpendidikan’ (uneducation system). Negara tanpa sistem pendidikan!

PENDIDIKAN sebagai ALAT PENJAJAHAN.
Berapa tahun sudah Republik Indonesia ini merdeka ? Nyaris 60 tahun.
Dan berapa lama dulu kita dijajah ? Total 350 tahun.

Apa artinya ? Selama 350 tahun pernah ada negara (sistem) yang berkuasa di tanah Nusantara dan merupakan waktu yang cukup lama dan efektif untuk menanamkan sistemnya di mana di dalamnya terdapat masyarakat yang terbiasa hidup di bawah sistem itu. Yaitu SISTEM KOLONIAL. Dan, republik ini sudah bergerak untuk selama 60 tahun entah kemana dan untuk apa, dan hasilnya tubuh renta yang semakin parah. Nyaris selama 60 tahun republik ini lepas dari penjajah ? Bukan. Bukan lepas, tetapi ditinggalkan & dicampakan penjajah ! sebab mereka sebentar lagi bersiap untuk datang menjajah anda lagi !

Untuk itu ada yang mereka lakukan…“Anda dipersiapkan untuk tidak siap”

Sehebat-hebatnya penjajah tetap mereka adalah bukan yang tahu segalanya. Mereka hanya mengetahui beberapa hal yang orang lain tidak tahu. Untuk itu mereka akan menciptakan suatu sistem pendidikan untuk menyebarkan apa-apa yang anda boleh tahu. Tujuannya untuk menjadi semacam kontrol informasi, mengontrol agar anda tetap berjalan dalam dogma mereka sehingga anda mudah diarahkan. Setidaknya kita bisa dibuat merasa pintar di depan mereka. Dan mereka akan bertepuk tangan dan tertawa terbahak-bahak di belakang kita.

Sebagai contohnya dogma feasebility studies (pernah diulas diposting yang lalu) yang dianut oleh pemerintah R.I, bukanlah asli karya dalam negeri. Ketika penjajah mempunyai keinginan atas kita maka mereka ingin kita mempelajari sistem mereka agar kelak kita siap menjadi pelaksana (kaki tangan) mereka. Untuk membangun investasinya penjajah butuh mendidik kaum pribumi untuk memuluskan rencananya di samping pemerintah diiming-imingi program pembangunan. Indonesia sejak merdekanya bukanlah Negara maju yang punya uang berlimpah untuk membiayai pendidikan ke luar negeri. Maka apa yang dilakukan oleh penjajah ?
PROGRAM BEASISWA, program belajar di manca negara bebas biaya alias gratis. Anda tidak perlu keluar uang lagi, anda pintar, anda bergelar dan ketika kembali anda sudah disediakan proyek multi investasi yang siap mereka bantu untuk dikembangkan di Republik anda. Singkatnya hidup anda sudah terjamin.

Anda dididik untuk mahir menilai prospek keuntungan suatu proyek untuk jangka panjang dan membuat proposal anggaran permohonan biaya investasi. Singkat kata, anda sedang mensketsa neraka sebagai rumah tinggal anda dan orang-orang awam. Kemahiran anda yang bergengsi ternyata tidak jauh adalah KEAHLIAN MENCARI PINJAMAN alias BERHUTANG. Dan itulah yang diinginkan oleh para penjajah, anda berhutang dan ketergantungan.

"Hutang itu seperti dusta di kala siang dan gelisah di kala malam". Anda terjebak. Lagipula sejak kapan sejarahnya ada orang yang memberikan uang (beasiswa) secara cuma-cuma ? Mereka pasti akan memintanya kembali.

Jika demikian jangan dulu anda berbangga diri dengan titel yang anda bawa pulang dari luar negeri, terlebih jika itu bukan bea siswa. Jangan dulu berbangga dengan segala inteligensi professor yang anda bawa pulang dari sana. Anda tidak lain hanyalah membawa pulang setengah ilmu yang mereka ajarkan. Mereka tidak akan sudi mengajarkan semua yang mereka ketahui. Anda dipecundangi ! Anda mengeluarkan biaya ratusan juta untuk sekolah di luar negeri hanya untuk dipecundangi. Orang tua anda kerja keras mencari biaya untuk anda sekolah di luar negeri hanya untuk membuat anaknya dipecundangi. Anda bekerja mati-matian untuk membiayai kuliah hanya untuk mempecundangi diri sendiri. Dan kelak anda kembali dari sana hanya untuk mempecundangi rakyat sendiri dengan segala ilmu mereka. Anda berpendidikan untuk menjadi pecundang. Sungguh suatu petaka yang luar biasa, maka tidak heran jika Tuhan murka kepada Indonesia. You pay something for nothing.

Dan ironisnya masih banyak orang tua yang berbondong-bondong menyekolahkan anaknya keluar negeri. Untuk apa ? Untuk apalagi jika bukan untuk mempertahankan keberlangsungan hidup dinasti keluarga mereka di zaman yang rawan kompetisi ini. Untuk belajar berbohong tepatnya. Bukankah untuk bertahan hidup di sistem yang dibangun di atas kebohongan anda pun harus memiliki ilmu mereka ?

Dan fenomena ini telah menjadi pola umum yang dianut oleh sistem pendidikan di Republik ini dan di seluruh pelosok dunia. Kita sudah terseret terlalu dalam. Sangat dalam.

Penjajah tidak akan memberitahukan apa yang diketahuinya kepada anda. Tetapi mereka perlu anda mengetahui sesuatu agar anda bisa bekerja sama.
Mereka perlu anda menjadi karyawan dan pembantu mereka. Anda hanya mendapat setengah ilmu mereka. Mereka memilihkan apa yang anda boleh ketahui.
Dan untuk itu anda harus membayarnya pula, karena satu hal : ANDA KETERGANTUNGAN !

Favour kills faster than bullet… bantuan membunuh lebih cepat dari peluru.

Adakah mereka yang tidak ketergantungan di negeri Indonesia ini ? Jika ada tolong cepat katakan kepada saya. Pasti ada !

(posting kali ini agak bernada mengerikan, sebab sesuai namanya ‘TITIK KRISIS’ yang akan menyampaikan realita apa adanya, logis, tidak basa-basi dan langsung ke inti. Bukan suatu pernyataan sikap yang apatis. Bukan untuk bersikap anti pendidikan barat. Bukan juga untuk menakut-nakuti anda. Ini hanyalah gambaran masalah yang demikian adanya di mana orang-orang masih bingung memikirkan apa sumber masalah hidup mereka. Jika anda tetap setia memantau webblog ini kelak anda akan melihat simpul-simpul ini akan semakin terurai menuju titik terangnya. Pada gilirannya untuk keluar dari situ anda harus mendayaupayakan apa yang telah mereka persiapkan. Untuk itu perlu kesabaran & bertahap mengingat keterbatasan tenaga & waktu. Sikap anda sementara ini adalah kumpulkan sebanyak mungkin petunjuk dari webblog ini dan di luar sana. Sebab anda tidak akan menemukan jawabannya di sini, tetapi anda hanya akan menemukan petunjuk-petunjuk. Mudah-mudahan anda berhasil keluar dari kotak. Sukses!)
-------------------------------------------------------------------------------------
“Mereka tidak memerangimu dengan senjata. Mereka memerangimu dengan pendidikan. Untuk itu engkau harus melawan dengan pendidikan pula. Didiklah dirimu ke seluruh penjuru. Kebenaran sejati berada di setiap sudut dunia ini. Open your mind, please.
“Mengetahui apa yang lawanmu dan dirimu inginkan, maka kamu tak perlu khawatir akan akhir dari hidup mu.” Sun Tzu : The Art of War


lihat topik terkait : filosofi penjajahan
S.S

Pak Haji ribut, AFTA berlanjut


‘NU Terseret Urusi Politik’
(Headline harian Republika, jakarta, Selasa 30 November 2004)

Wah lagi hot isu Muktamar Nahdlatul Ulama ke -31 nih ?

heboh ya rame rebutan tahta..
Lumayan buat dijadikan headline pasti laris.
Maklumlah ngejar setoran, iklan agak seret kompetisi ketat.
Orang Indonesia kan suka yang rame-rame
Lho, ini Koran apa sinetron..?
Ketinggalan ah, headline model begitu !
Tahun ’55, Masyumi udah ribut sama NU, lebih rame.
Kalo cuma sesama NU ribut jangan heran.

Mau tahu yang paling rame ? (‘kan orang Indonesia suka yg rame)
“ASEAN Sepakat Percepat Perdagangan Bebas”
(Berita di Harian Republika di edisi yang sama, yang hanya dua kolom secuil dan mojok dan bukan headline)

Waduuh.. dipercepat !

(Perdagangan Bebas atau Liberalisasi adalah masalah inti dari setiap pojok-pojok Negara di dunia. Masalahnya adalah kurangnya informasi tentang hal ini di masyarakat. Media massa agaknya kewalahan untuk mengulas tentang hal ini karena begitu njlimet dan kompleks topik liberalisasi ini. Sebab jika hal ini diangkat akan menyeret seluruh aspek kehidupan semua individu termasuk diri mereka sendiri. Mengejar omset lebih utama dan menarik ketimbang mendidik masyarakat secara jujur. Sekalipun para media itu mengklaim dirinya pembela umat. (umat atau market ?). Mudah-mudahan ya tidak..)

tidak apatis tapi menuju langsung ke inti...
-----------------------------------------------------------------------------------
“Adalah menyedihkan jika aib (masalah) menjadi komoditas. Suatu petaka akhir zaman ?”

“Ketika semut diseberang lautan nampak jelas daripada gajah di depan mata” Get out of the box!

S.S