"TITIK KRISIS"

Mengajak anda menuju langsung ke Pusat Krisis

My Photo
Name:

Anda telah memasuki mata hati kami. Adalah bijaksana untuk tetap berada di dalamnya. Jika anda berpaling kami tidak menjamin anda kembali seperti semula. "The world is waiting for you"

Wednesday, December 01, 2004

Ketika harus Membayar Mahal untuk Tidak Terdidik

(Topik ini merupakan lanjutan dari topik Filosofi Penjajahan)

"Percayakah anda jika saya bilang bahwa ternyata hari ini kita harus membayar mahal untuk tidak berpendidikan..?"
Apa yang terlintas dibenak anda sekalian ? Jujur saya katakan seperti hidup di neraka (neraka dunia). Lingkaran setan. Waduuh.. serem banget. Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti anda tapi untuk menalarlogikakan fenomena yang menimpa kita ini secara sederhana. Sangat nyata dan tidak basa-basi. Semoga anda kuat menerimanya.

Dulu semasa sekolah atau kuliah kita biasa dengar ucapan seperti ini: “kita kuliah untuk apa sih? cari kerja ? kerja aja belum tentu sesuai dengan bidang kuliah kita jadi kita kuliah di jurusan ini untuk apa dong?” Inilah fenomena yang sangat umum ketika kita bergabung dengan suatu institusi pendidikan. Ada kesan “penelantaran’. Benarkah demikian ?

Sesungguhnya anda tidak ditelantarkan justru anda sangat diperhatikan. Bukankah dengan menjamurnya institusi pendidikan di Republik Indonesia ini berarti bukti bahwa pemerintah sangat sangat peduli dengan pendidikan anak bangsa. Seharusnya kita harus bangga tetapi mengapa pada kesehariannya kita masih juga bingung ? Kekhawatiran anda sangat beralasan sebab bukti mengatakan bahwa di Republik ini setiap tahun melahirkan banyak sarjana dan master tapi lahan pekerjaan semakin sedikit. Wah..

Ternyata selama ini kita telah salah kaprah dengan kepedulian pemerintah itu, sarjana yang lahir tiap tahun itu tidak lain adalah korban komoditas dari ulah institusi pendidikan. Ketika masa pendaftaran mahasiswa baru tiba yang dilihat oleh institusi pendidikan bukan datangnya sumber daya manusia baru (kader-kader pembangunan) tetapi : Kantong anda !

"Anda punya uang, kami beri anda titel. Anda boleh kuliah, boleh tidak. Suka-suka anda. Kami tidak peduli anda mau pintar atau tidak. Kami tidak peduli anda mau bermoral atau tidak. Kami tidak peduli anda besok bisa bikin apa. Yang penting anda bayar, kami untung. Jangan lupa, biaya sudah termasuk pajak untuk kami setorkan ke pemerintah".

Jadi jika anda ingin melihat seberapa besar institusi pendidikan diuntungkan kita lihat saja berapa sarjana yang mereka hasilkan setiap tahun. Lho, malah jadi seperti meriset perusahaan unilever, kalau ingin melihat omset perusahaan tinggal hitung berapa pasta gigi yang terjual.

Demikianlah paradigma pendidikan di republik ini, manusia tidak lagi dipandang sebagai SDM (atau kader pembangunan) tetapi sebagai ‘konsumen’. Sistem pendidikan di Republik ini tidak mencetak siswa untuk pintar atau produktif karena memang tidak diarahkan untuk itu. Kiblat dari sistem pendidikan ini adalah dua : kas pengelola institusi dan kas Negara. Pada akhirnya kita melihat peranan sistem pendidikan yang ternyata tidak jauh beda dengan outlet Mc Donald!! Profit oriented. Anda tidak perlu heran dengan itu karena memang republik ini punya masalah berat dengan keuangan. Suka tidak suka keuangan adalah denyut jantung terselenggaranya suatu Negara. Singkatnya anda tinggal di Negara yang bermasalah maka apapun yang terselenggara di dalamnya pasti bermasalah. Maka adalah ajaib jika hari ini anda tidak bermasalah.

Masalah yang datang sebagai dampak ‘sampah intelektual’ itu semakin bertumpuk dari waktu ke waktu. Para sarjana dan master yang seharusnya sebagai agen perubahan, kini tidak lagi bisa merubah. Mereka justru yang terubah. Mereka tidak diarahkan untuk membangun lapangan pekerjaan baru, tetapi justru mengharapkannya. Seandainya pun bisa, lapangan pekerjaan yang mereka hasilkan adalah sesuatu yang umum yang hanya cukup sekedar memberi pekerjaan, minimal untuk diri mereka sendiri dan tidak memberikan perubahan yang berarti dalam masyarakat. Kita sudah dididik untuk saling bersaing di dalam negeri sendiri! Kita tidak dididik untuk bekerja sama. Dan jika bicara soal persaingan, kita sudah salah alamat. Pesaing kita sebentar lagi akan datang berbondong-bondong dari negeri seberang dengan sedikit orang dan penuh persiapan (era pasar bebas). Dan kita para sarjana dan master siap-siap untuk berebut posisi menjadi tukang sapu, tukang kemas atau satpam mereka. Lapangan pekerjaan yang kita bangun susah payah, jika tidak diambil alih minimal tersaingi dengan kecanggihan dan kemurahmeriahan mereka. Titel yang kita peroleh hanyalah bernilai nol di depan mata mereka. Easy come, easy go.

Sistem pendidikan di republik ini sudah sangat salah kaprah. Maka pantaskah jika hal tersebut kita sebut ‘sistem pendidikan’ (education system) ? atau lebih tepatnya ‘sistem ketidakpendidikan’ (uneducation system). Negara tanpa sistem pendidikan!

PENDIDIKAN sebagai ALAT PENJAJAHAN.
Berapa tahun sudah Republik Indonesia ini merdeka ? Nyaris 60 tahun.
Dan berapa lama dulu kita dijajah ? Total 350 tahun.

Apa artinya ? Selama 350 tahun pernah ada negara (sistem) yang berkuasa di tanah Nusantara dan merupakan waktu yang cukup lama dan efektif untuk menanamkan sistemnya di mana di dalamnya terdapat masyarakat yang terbiasa hidup di bawah sistem itu. Yaitu SISTEM KOLONIAL. Dan, republik ini sudah bergerak untuk selama 60 tahun entah kemana dan untuk apa, dan hasilnya tubuh renta yang semakin parah. Nyaris selama 60 tahun republik ini lepas dari penjajah ? Bukan. Bukan lepas, tetapi ditinggalkan & dicampakan penjajah ! sebab mereka sebentar lagi bersiap untuk datang menjajah anda lagi !

Untuk itu ada yang mereka lakukan…“Anda dipersiapkan untuk tidak siap”

Sehebat-hebatnya penjajah tetap mereka adalah bukan yang tahu segalanya. Mereka hanya mengetahui beberapa hal yang orang lain tidak tahu. Untuk itu mereka akan menciptakan suatu sistem pendidikan untuk menyebarkan apa-apa yang anda boleh tahu. Tujuannya untuk menjadi semacam kontrol informasi, mengontrol agar anda tetap berjalan dalam dogma mereka sehingga anda mudah diarahkan. Setidaknya kita bisa dibuat merasa pintar di depan mereka. Dan mereka akan bertepuk tangan dan tertawa terbahak-bahak di belakang kita.

Sebagai contohnya dogma feasebility studies (pernah diulas diposting yang lalu) yang dianut oleh pemerintah R.I, bukanlah asli karya dalam negeri. Ketika penjajah mempunyai keinginan atas kita maka mereka ingin kita mempelajari sistem mereka agar kelak kita siap menjadi pelaksana (kaki tangan) mereka. Untuk membangun investasinya penjajah butuh mendidik kaum pribumi untuk memuluskan rencananya di samping pemerintah diiming-imingi program pembangunan. Indonesia sejak merdekanya bukanlah Negara maju yang punya uang berlimpah untuk membiayai pendidikan ke luar negeri. Maka apa yang dilakukan oleh penjajah ?
PROGRAM BEASISWA, program belajar di manca negara bebas biaya alias gratis. Anda tidak perlu keluar uang lagi, anda pintar, anda bergelar dan ketika kembali anda sudah disediakan proyek multi investasi yang siap mereka bantu untuk dikembangkan di Republik anda. Singkatnya hidup anda sudah terjamin.

Anda dididik untuk mahir menilai prospek keuntungan suatu proyek untuk jangka panjang dan membuat proposal anggaran permohonan biaya investasi. Singkat kata, anda sedang mensketsa neraka sebagai rumah tinggal anda dan orang-orang awam. Kemahiran anda yang bergengsi ternyata tidak jauh adalah KEAHLIAN MENCARI PINJAMAN alias BERHUTANG. Dan itulah yang diinginkan oleh para penjajah, anda berhutang dan ketergantungan.

"Hutang itu seperti dusta di kala siang dan gelisah di kala malam". Anda terjebak. Lagipula sejak kapan sejarahnya ada orang yang memberikan uang (beasiswa) secara cuma-cuma ? Mereka pasti akan memintanya kembali.

Jika demikian jangan dulu anda berbangga diri dengan titel yang anda bawa pulang dari luar negeri, terlebih jika itu bukan bea siswa. Jangan dulu berbangga dengan segala inteligensi professor yang anda bawa pulang dari sana. Anda tidak lain hanyalah membawa pulang setengah ilmu yang mereka ajarkan. Mereka tidak akan sudi mengajarkan semua yang mereka ketahui. Anda dipecundangi ! Anda mengeluarkan biaya ratusan juta untuk sekolah di luar negeri hanya untuk dipecundangi. Orang tua anda kerja keras mencari biaya untuk anda sekolah di luar negeri hanya untuk membuat anaknya dipecundangi. Anda bekerja mati-matian untuk membiayai kuliah hanya untuk mempecundangi diri sendiri. Dan kelak anda kembali dari sana hanya untuk mempecundangi rakyat sendiri dengan segala ilmu mereka. Anda berpendidikan untuk menjadi pecundang. Sungguh suatu petaka yang luar biasa, maka tidak heran jika Tuhan murka kepada Indonesia. You pay something for nothing.

Dan ironisnya masih banyak orang tua yang berbondong-bondong menyekolahkan anaknya keluar negeri. Untuk apa ? Untuk apalagi jika bukan untuk mempertahankan keberlangsungan hidup dinasti keluarga mereka di zaman yang rawan kompetisi ini. Untuk belajar berbohong tepatnya. Bukankah untuk bertahan hidup di sistem yang dibangun di atas kebohongan anda pun harus memiliki ilmu mereka ?

Dan fenomena ini telah menjadi pola umum yang dianut oleh sistem pendidikan di Republik ini dan di seluruh pelosok dunia. Kita sudah terseret terlalu dalam. Sangat dalam.

Penjajah tidak akan memberitahukan apa yang diketahuinya kepada anda. Tetapi mereka perlu anda mengetahui sesuatu agar anda bisa bekerja sama.
Mereka perlu anda menjadi karyawan dan pembantu mereka. Anda hanya mendapat setengah ilmu mereka. Mereka memilihkan apa yang anda boleh ketahui.
Dan untuk itu anda harus membayarnya pula, karena satu hal : ANDA KETERGANTUNGAN !

Favour kills faster than bullet… bantuan membunuh lebih cepat dari peluru.

Adakah mereka yang tidak ketergantungan di negeri Indonesia ini ? Jika ada tolong cepat katakan kepada saya. Pasti ada !

(posting kali ini agak bernada mengerikan, sebab sesuai namanya ‘TITIK KRISIS’ yang akan menyampaikan realita apa adanya, logis, tidak basa-basi dan langsung ke inti. Bukan suatu pernyataan sikap yang apatis. Bukan untuk bersikap anti pendidikan barat. Bukan juga untuk menakut-nakuti anda. Ini hanyalah gambaran masalah yang demikian adanya di mana orang-orang masih bingung memikirkan apa sumber masalah hidup mereka. Jika anda tetap setia memantau webblog ini kelak anda akan melihat simpul-simpul ini akan semakin terurai menuju titik terangnya. Pada gilirannya untuk keluar dari situ anda harus mendayaupayakan apa yang telah mereka persiapkan. Untuk itu perlu kesabaran & bertahap mengingat keterbatasan tenaga & waktu. Sikap anda sementara ini adalah kumpulkan sebanyak mungkin petunjuk dari webblog ini dan di luar sana. Sebab anda tidak akan menemukan jawabannya di sini, tetapi anda hanya akan menemukan petunjuk-petunjuk. Mudah-mudahan anda berhasil keluar dari kotak. Sukses!)
-------------------------------------------------------------------------------------
“Mereka tidak memerangimu dengan senjata. Mereka memerangimu dengan pendidikan. Untuk itu engkau harus melawan dengan pendidikan pula. Didiklah dirimu ke seluruh penjuru. Kebenaran sejati berada di setiap sudut dunia ini. Open your mind, please.
“Mengetahui apa yang lawanmu dan dirimu inginkan, maka kamu tak perlu khawatir akan akhir dari hidup mu.” Sun Tzu : The Art of War


lihat topik terkait : filosofi penjajahan
S.S

2 Comments:

Blogger nurv3 said...

tag nya error, aku ngisi di sini aja ya..
thanks 4 the support..:)

December 8, 2004 6:47 PM  
Blogger Pipit said...

Masukan yang sangat menarik. Tapi mungkin yang perlu ditambahkan, keadaan sekarang dimana pendidikan hanyalah komoditas dan manusia terdidik jatuh dalam perbudakan struktur kolonial yang berakar, bukanlah sesuatu yang 'given'. All structures and conditions are constructed. Dan sebelum kita bisa merubah apapun, kita harus menyadari bagaimana keadaan sekarang dibangun. Yang harus dilakukan pertama kali adalah bersikap kritis dalam menerima ilmu, dalam melaksanakan norma, dan dalam menjalani waktu. Kuliah memang tidak akan memberikan seluruh ilmu, karena ilmu tidak pernah berhenti untuk dihasilkan. Yang jarang disadari, kuliah memungkinkan manusia untuk membangun cara berpikir yang kemudian bisa menghasilkan ilmu.

"A little voice from a student who is on the edge of her student life, but somehow found a justification to her unexpected long 'study' journey"

January 10, 2005 6:52 AM  

Post a Comment

<< Home