LSM Mulai Jenuh Bicara Korupsi
“Kali ini, kami tidak akan banyak omong. Yang jelas, perjuangan untuk perang terhadap KKN, harus tetap digelorakan. Walaupun terkadang kita pernah merasa pesimis juga.”
(Wakil Koordinator Indonesian Corruption Watch (ICW), Luki Jani, harian Rakyat Merdeka, 16 November 2004.)
Berjuang mengapa harus jenuh dan pesimis ?
Oh, saya tahu pasti kekurangan biaya operasional, kan.
Siapa bilang berjuang (apalagi melawan korupsi) tidak butuh biaya.
Memangnya ada orang yang mau sukarela memberantas korupsi tanpa digaji ? Jangan-jangan LSM dibuat juga untuk sarana penghidupan diri anda pribadi ? Hmm, repot kalau begitu.
Dan siapakah yang mau menggaji LSM ?
Berani jadi LSM seharusnya berani rugi, itu baru berjuang.
Tanpa pamrih, berani rugi dan modal sendiri. Mantaplah begitu.
Memangnya masih ada orang seperti itu di Republik ini ?
Siaga 1 ! Siaga 1 !
Indonesia dalam darurat perang. Perang melawan Kemunafikan !
-----------------------------------------------------------------------
"Orang jahat itu menang jika orang baik hanya berbasa-basi"
"Jenuh dan pesimis adalah lawan berat dari perjuangan. Maka taklukanlah diri mu sendiri sebelum menaklukan musuh-musuh mu"
S.S


7 Comments:
kejenuhan LSM, boleh jadi sebuah keputusasaan
pernah nangkep tikus dengan tangan kosong gak?
nangkep tikus dg tangan kosong..? iya ya ngapain juga, kurang kerjaan. Berjuang tanpa modal,hmm lebih kurang kerjaan lagi. Tapi kalau sudah punya modal ngapain lagi capek-capek nangkap tikus. Bangun rumah baru saja yang bebas tikus. Habis tikusnya sudah kebanyakan :)
ada tikus alimnya segala, that is 'hipocrity' (kemunafikan)!
This comment has been removed by a blog administrator.
"keimanan tanpa kekuatan/sistem adalah basa-basi"
"kekuatan/sistem tanpa keimanan adalah fasisme"
pilih yg mana ? ya ngga dua-duanya :)
kata temanku, ada beda antara pesimis dengan realistis.. :)
mungkin udah terlalu banyak pihak yang pesimis dengan kondisi KKN di Indonesia. Tetapi jangan diartikan karena kurangnya dana dsb saja. Masalahnya, kondisi KKN-nya itulah yang bisa dianggap 'akut' dan mengalami 'komplikasi'.
Jadi, kalo bisa, jangan berprasangka buruk dulu kepada mereka-mereka yang memiliki keinginan untuk memberantas korupsi, ternyata pada akhirnya mereka pesimis dengan apa yang mereka kerjakan. Karena kunci satu-satunya yang memainkan peranan pemberantasan itu adalah lembaga yang mengalami masalah KKN itu sendiri. Kalo dia sendiri nggak mau diobati penyakitnya, kita mo gimana lagi? Padahal nantinya semua yang dilakukan lembaga (yang memiliki penyakit KKN itu) imbasnya akan kembali ke kita-kita (baca: rakyat) juga. NAH!
Jika ingin dibilang prasangka buruk, saya lebih suka mengatakannya “introspeksi”. Dan perjuangan pasti akan bicara tentang “MENTALITAS”.
Seperti anda bilang….
Karena kunci satu-satunya yang memainkan peranan pemberantasan itu adalah lembaga yang mengalami masalah KKN itu sendiri. Kalo dia sendiri nggak mau diobati penyakitnya, kita mo gimana lagi?
Jika seperti itu keadaannya.. wajarlah karena kita memang tidak pernah merasa memiliki negara ini. Sebab mereka (pemerintah) sendiri juga tidak merasa memiliki negara ini. MEREKA memiliki ANDA ! dan, ANDA dalam kepemilikan MEREKA ! kelihatannya reformasi tapi kok terkesan lebih otoriter ya… cuma mungin agak halus saja. Dan karena itu tadi, orang baik hanya berbasa-basi. Mentalitasnya TAKUT BERKORBAN. Jika berkorban pun mereka berhitung. Itu berjuang atau dagang. Entah mengapa saya melihatnya seperti itu saja.. sikap mereka sendiri yg mengatakannya. Bagaimana ?
Post a Comment
<< Home