Panser Globalisasi : KIAMAT di INDONESIA
Seperti biasanya malam itu saya dan rekan saya mengakhiri hari di warung kopi pinggir jalan asyik membicarakan tentang Amerika yang membombardir Iraq. Saat itu saya pikir saat yang tepat untuk memanfaatkann emosi rekan saya ini dengan bertanya bagaimana ya seandainya Amerika menyerang Indonesia?
Dengan penuh semangat nasionalisme kebangsaan yang mendadak itu dia menjawab, “Amerika nggak mungkin berani nyerang kita (-Indonesia), tempat kita aja kan banyak hutan pasti takut sama perang gerilya. Kan pernah waktu jaman Belanda..bla..bla..bla”
Sebenarnya saya bisa saja bilang bahwa jaman Belanda beda dengan jaman sekarang yang semuanya serba rudal, serba jarak jauh, serba teknologi tinggi. Tapi sayang sekali rasanya jika momen diskusi kecil ini saya sia-siakan dengan jawaban instan dan tidak kognitif (tidak membangun) seperti itu yang hanya akan menjatuhkan rekan saya itu. Teringat kata-kata guru saya , “janganlah kamu menyia-nyiakan (menelantarkan) orang yang kamu bertemu dengannya”
Maka saya memutuskan untuk bersikap sebijaksana mungkin dalam menjawab masalah ini. Dengan nada ekstrim saya jawab, “Ah, siapa bilang Amerika tidak bakalan nyerang kita. Asal tahu aja Amerika itu udah nyerang kita dari kemarin-kemarin”. Rekan saya mulai terpaku dengan pendapat saya yang ‘tidak umum’.
Dengan posisi di atas angin saya pun melanjutkan,
“Anda jangan salah, Amerika itu ngga bakalan capek-capek ngebom Indonesia. Kenapa musti di bom? Hutannya aja banyak, tambangnya luas, hasil alamnya aja membludak. Rugilah kalau dibom, mendingan dikuasai atau dimanfaatkan sama Amerika. Dan itu sudah terjadi sekarang. Perlahan-lahan Amerika mengambil alih Indonesia. Meskipun belum 100%, tapi rencana untuk itu sudah berjalan. Dan kalau Indonesia sudah diambil alih maka inilah yang dimaksud penjajahan atau invasi yang sebenarnya. Anda, saya dan seluruh bangsa Indonesia”.
Seluruhnya kah ?? Tunggu dulu...
Ketika itu saya diajak teman saya ke Bank BCA di daerah Bogor. Bosan menunggu teman saya yang larut dengan urusan bank. Saya memilih berdiri di depan pintu daripada berbengong ria di kursi tunggu. Saya dekati pak satpam yang berdiri bagai patung sesekali melempar senyum ke pengunjung.
Dalam hati saya bertanya-tanya orang ini pasti bukan satpam biasa ini terlihat dari cara dia bertugas dan menyambut pengunjung layaknya customer service, penuh intelektual dan skill tata krama. Bicara punya bicara terungkaplah dia adalah sarjana lulusan Universitas Indonesia jurusan sosial. Katanya dulu pernah bekerja di suatu Bank di Jakarta sebagai marketing tapi sialnya terkena restrukturisasi. Beralih menjadi satpam karena sudah mencoba melamar untuk pekerjaan yang cocok tapi tak ada panggilan. Akhirnya ia terpaksa memutuskan menghadapi realita hidup. Life Must Go On !
Dalam kesempatan lain pun saya dengar gosip bahwa satpam di Bank Indonesia, Jakarta pun kebanyakan lulusan universitas negeri, dan sarjana juga ! Tibalah pada suatu pertanyaan yang sempat mengganjal di hati saya. Entah, mungkin bagi sebagian orang masalah adalah hal biasa: orang butuh kerja.
Tapi kenapa saya merasa masalahnya tidak sesedehana itu. Melalui perjalanan panjang proses pencaritahuan akhirnya saya rasa telah menemukan jawaban atas teka-teki ini. Saya mulai merangkai petunjuk-petunjuk ini dan mengarah ke satu titik permasalahan, yaitu WTO! (World Trade Organization). AFTA, NAFTA dan APEC. Era Pasar Bebas.
Sejak kemerdekaan bangsa ini diproklamirkan, kita belum pernah sekalipun lepas dari belas kasihan (bantuan) dari pihak lain. Dengan kata lain, ketergantungan adalah keahlian nomor satu bangsa terbesar di Asia Tenggara ini. Apa jadinya jika tentara sekutu tidak membomatomkan Jepang ? Kita tidak pernah merdeka seperti gambaran proklamasi itu.
Dan benarkah setelah itu kita merdeka ? Sejak berakhirnya perang dunia kedua, semasa perang dingin penjajahan tidak lagi berjalan di atas roda meriam dan panser. Model baru dari penjajahan yang lebih santun telah ditemukan : di atas roda politik dan roda ekonomi.
Saat itu sistem penjajahan tidak lagi secara fisik bahkan dengan santun pula memaksa kita, pilih dibantu Blok Timur (era Orde Lama) atau dibantu Blok Barat (era Orde baru). Di tengah-tengah itu berhembus teori yang mengatakan bahwa bangsa-bangsa Negara berkembang harus sesegeranya menjemput menjadi bangsa yang modern (modernisasi). Siapa model untuk itu ?
Dengan dalih mengantarkan bangsa ini menuju masyarakat modern yang mana ketika itu isu modernisasi & industrialisasi ditiupkan sebagai gelombang dari mainstream standar kemajuan masyarakat dunia maka dimulailah korporasi atas-bawah melalui World Bank (IGGI, IMF) , yaitu Indonesia menerima pinjaman alias berhutang kepada masyarakat ekonomi (Blok) Barat.
Tidak perlu berlama-lama saya menceritakan sejarah Indonesia-IMF ini maka cukup saya ringkas yang namanya hutang adalah : Dusta di kala siang dan gelisah di kala malam. Apalagi dengan total beban sekitar 132 Milyar US Dollar!
Bagai kerbau yang dicocok hidungnya dengan mudahnya kini negara-negara Barat mendikte Indonesia melalui agenda udang dibalik batunya, yaitu: Indonesia mau tidak mau wajib menyepakati agenda pasar bebas (WTO) Dan ini sudah terjadi!
Mungkin anda-anda tidak mau ambil pusing dengan masalah ini karena anda sendiri sudah pusing dengan masalah pribadi anda. Tetapi hanya sekedar mengingatkan bahwa masalah apa pun yang terjadi dalam hidup anda sampai detik ini sekalipun itu masalah pribadi tidak terlepas dari agenda akbar kapitalis ini. Anda akan menyesal jika mengabaikannya..
Saya katakan saja jikalau hari ini anda dan saya dalam hal ini sebagai masyarakat kelas dua yang masih bisa menyisakan malam hari untuk bersenda gurau di internet atau masih diberi keleluasan untuk memikirkan dan menikmati musik, acara televisi atau berdebat seru dengan seribu wacana yang utopis (memusingkan).
Jikalau hari ini anda dan saya tidak kesulitan untuk mengahbiskan 50 ribu di supermarket atau kongkow-kongkow di Mc Donald atau bercanda di warnet. Singkatnya , semahal apa pun barang-barang hari ini kita masih sanggup membeli. Maka jangan heran, jika program-program globalisasi WTO seperti AFTA mulai berjalan, maka.. semua barang akan murah, tapi ironisnya saat itu anda malah tidak bisa membeli apa pun!
Mengapa demikian? Untuk menggambarkan AFTA yang akan hadir dalam beberapa tahun ini (2007, dan telah berjalan beberapa persiapannya) cukup sederhana saja: Jikalau anda hari ini membeli produk luar negeri dengan harga mahal, itu disebabkan barang tersebut dikenakan bea masuk barang yang sangat tinggi.
Gunanya adalah untuk melindungi produksi dalam negeri agar masyarakat lebih banyak yang membeli produk negeri sendiri karena murahnya. Sekaligus merangsang produsen-produsen dalam negeri agar lebih produktif. Produktifnya produsen dalam negeri berarti kesempatan kita untuk bekerja dan produktif. Ini yang disebut dengan proteksi.
Dengan demikian maka proses pemasokan/impor barang dari luar negeri harus melalui prosedur berbelit-belit (seperti bea cukai, dll)
Tapi ketika AFTA datang, semuanya jadi sederhana. Transit beras dari India ke Indonesia tidak ada bedanya sama sekali dengan transit beras dari terminal Cianjur ke pasar-pasar induk Jakarta, Bandung atau Bogor. Sama-sama bebas cukai!
Hubungan dagang transnasional/internasional menjadi sangat sangat sesederhana seperti ketika kita pergi ke warung atau kita menjual dagangan di pasar. Tidak dihalangi birokrasi dan prosedur.Prinsipnya adalah kebebasan ekonomi (Economic Liberty) yaitu kegiatan ekonomi harus bebas rintangan dalam operasinya. Penghapusan cukai/tarif merupakan bagian dari kebijakan WTO yang akan merugikan kita manakala kita tidak siap.
Secara relatif mengapa merugikan kita?
Harga beras di Indonesia sudah tidak ada lagi yang melindungi. Parahnya jumlah produksi beras di Indonesia kalah banyak jumlah produksinya dengan India. Berlakulah prinsip ekonomi dan prinsip dagang: siapa yang memproduksi paling banyak maka dialah yang bisa menjual paling murah. Siapa yang bisa menjual paling murah maka dia yang menjual paling banyak. Siapa yang bisa menjual paling banyak maka dialah yang bisa kembali modal untuk membiayai produksi berikutnya.
Prinsip ini adalah kata kunci untuk memahami aturan main pasar bebas (globalisasi)
Dengan demikian, India dengan produksi beras melimpah akan mendominasi pasar di Indonesia dengan harga beras yang paling murah sehingga masyarakat Indonesia pun memilih konsumsi beras India. Apa artinya ?Petani Indonesia tidak bisa menjual berasnya dikarenakan produksinya yang sedikit yang mengakibatkan harga jualnya yang mahal. Tidak ada yang mau membeli ! Akhirnya, daripada kelaparan petani TERPAKSA memakan berasnya sendiri!
Akibatnya petani Indonesia perlahan-lahan tidak akan mampu berproduksi lagi. Kondisi ini didukung pula oleh nasib petani Indonesia yang tidak terdidik atau difasilitasi keahlian teknologi produksi modern yang notabene ketinggalan dari luar negeri.
Dengan kata lain, petani telah ditelantarkan.Ini adalah tahap pertama dari globalisasi : TRANSFER PRODUK
Lalu apa hubungannya beras, petani dengan nasib negara Indonesia ?
Beras adalah salah satu contoh fundamental dari korban AFTA (pasar bebas skala asia) dan masih banyak lagi aspek-aspek lainnya. Dengan datangnya AFTA ini berarti wujud nyata dari kebebasan ekonomi, yaitu kebebasan negara-negara kapitalis memproduksi dan memasarkan barang.
Tapi yang namanya kebebasan satu selalu akan menjadi batasan bagi yang lain.
Warteg dan McDonald misalnya. Pada saat dihapuskannya tarif/bea masuk di era AFTA maka jangan heran jikalau anda melihat harga menu-menu Mcdonald jauh lebih murah daripada sekarang. Bisa saja setara menu di warteg, bisa jadi pula lebih murah dari harga warteg ! (dalam satu kasus perbandingan silahkan anda temui burger emperan dengan harga 6 ribu atau 5.500 sementara McDonald dengan kekuatan sistem dan produksinya sanggup menjual berbagai menu variatif seharga 5 riburupiah, selain murah, kebersihan, kenyamanan dan kepraktisan pun menjadi nilai plusnya. Dengan warteg silahkan bandingkan sendiri )
Maksudnya adalah ketika era AFTA nanti, warteg & pasar tradisional akan bersaing dengan fastfood & pasar-pasar modern (asing). Dengan bekal teknologi industri canggih dan sistem yang solid maka produsen-produsen asing akan lebih dominan dalam memproduksi barang-barang yang banyak, berkualitas dan murah.
Tapi sebaliknya dengan bekal kemampuan produksi yang apa adanya maka produsen lokal hanya mampu memproduksi sedikit barang yang berakibat mahalnya harga jual karena harus menutupi ongkos produksi. Barang sedikit otomatis harga mahal.
Jika biaya produksi saja sudah kewalahan jangan harap bicara tentang biaya peningkatan mutu. Barang mahal dengan mutu produksi rendah sudah pasti tidak laku. Bila kondisi seperti ini terus lama kelamaan produsen lokal akan mati. Dan produsen asing akan semakin banyak merajalela ke Indonesia untuk mendominasi pasar. Pada gilirannya menjamurlah perusahaan-perusahaan asing di Indonesia, saat itu diperkirakan sumber-sumber produksi dalam negeri sudah mati disapu asing. Ini berarti kematian bagi bangsa Indonesia.
Matinya kesempatan kerja bangsa Indonesia di Negerinya sendiri!
Matinya kesempatan bangsa indonesia untuk berproduksi di negerinya sendiri!
Matinya kesempatan bangsa Indonesia untuk mengelola negerinya sendiri!
Atau dengan kata lain, Bangsa indonesia menjadi konsumen di negerinya sendiri !
Anda tidak dapat menghasilkan uang (berproduksi) tapi anda mau tidak mau harus mengkonsumsi. Kemampuan serta daya beli anda menurun tetapi anda harus membeli untuk menutupi segala keperluan survival anda….
Semua barang murah tapi justru daya beli anda menurun The Death of Economics. Maka inilah yang dimaksud dengan KIAMAT di INDONESIA, GEMPA BUMI SISTEM !
Kandasnya lahan kerja di Indonesia bagi masyarakat lokal?
Belum tentu, lahan kerja tetap ada dan banyak. Bila makin banyak perusahaan asing yang masuk tentunya ada kesempatan yang banyak pula.
Yaa.. kesempatan itu adalah bekerja sebagai satpam, cleaning service, tukang kebun, tukang kemas, kurir, caddy golf, dan sebagainya.
Akhirnya terjawablah mengapa para sarjana itu memilih jadi satpam.
Saya katakan pahitnya saja bahwa seberapa pun tingginya gelar anda hari ini sarjana, doktor, professor, dokter, insinyur atau apa pun maka pada level intelektual itulah anda akan dicampakan atau tidak akan berguna sama sekali bagi korporasi-korporasi asing.
Bila hari ini anda masih dapat bekerja di perusahaan lokal maka tidak lama lagi perusahaan lokal itu akan jatuh ke tangan asing sebagai akibat dari kebijakan WTO yang membebaskan hak kepemilikan saham perusahaan lokal oleh asing.
Pada saat itu jikalau masih ada perusahaan lokal, cepat atau lambat akan mati disapu atau diakuisisi oleh perusahaan asing. Dengan jatuhnya perusahaan lokal ke tangan asing maka berarti asing berhak menentukan manajemennya (transfer manajemen) dan memilih karyawan-karyawan potensialnya yang sudah pasti mengimpor rekan-rekan asingnya yang seide, sepaham dan tentunya telah terdidik & terkenal profesionalismenya. Atau dengan kata lain level manajerial dalam korporasi sudah pasti akan di dominasi oleh SDM asing (kaum ekspatriat)
Maka jadilah nasib intelektual indonesia seperti mati segan, hidup tak mau. Bertitel tinggi tapi kesempatan yang ada hanya jadi satpam, cleaning service, caddy golf..! Artinya, kesempatan menjadi tenaga kerja kelas bawah yang harus mau diupah murah !
Kenapa demikian?Sebab saya dengar di Jepang saja orang yang main golf harus mengambil bolanya sendiri. Karena, memang untuk mengupah seorang caddy golf atau kurir sangatlah tinggi. Begitu juga di Amerika atau Eropa, standar cost (living cost) SDM di sana sangat tinggi sehingga korporasi lebih memilih mengirit karyawan..
Dan ketika itu nanti terjadilah tahap kedua globalisasi : TRANSFER SDM (Transfer Tenaga Kerja Asing di Indonesia ).
Transfer tenaga ahli, pakar, professional dan manajerial untuk mengambil alih komando ekonomi di Indonesia. Untuk menjadi majikan atas nasib anda, tenaga kerja murah di Indonesia. Tenaga kerja yang tidak memiliki hak untuk menegosiasi nasib dan harga dirinya. Duduk sama rendah, berdiri tetap rendah.
Demikianlah inti dari apa-apa yang disebut era globalisasi, di mana mulai terbukalah pasar-pasar dari perusahaan milik negara-negara kapitalisme secara mengglobal, mendunia.
Era pasar bebas, di mana kebebasan hanyalah milik negara kapitalis dan bukan rakyat. Bangsa anda, Bangsa Indonesia hanya akan menjadi penonton di negeri sendiri. Berbanggalah menjadi Bangsa Indonesia.
Maka inilah yang dimaksud dengan :Bangsa Asing kembali menguasai total Indonesia Tidak perlu bom untuk menaklukan Indonesia yang berhutang 1000 trilyun rupiah. Indonesia hari ini sudah takluk di bawah kaki kapitalis.
Dengan hutang sebesar itu cukuplah untuk menyerahkan pengelolaan sumber daya alam Sumatera, Kalimantan dan Irian ke tangan asing sebagai jaminan. Ditambah lagi dengan biaya operasi militer di Aceh yang sedemikian besar, biaya pemulihan Aceh, biaya penyelenggaraan pemilu, biaya ini, biaya itu yang fana dan tidak perlu Indonesia sudah luka parah dan terpuruk sebelum sempat dihantam gelombang globalisasi nanti. Kalah sebelum berperang.Anda dikuasai lawan karena anda tidak menguasai diri anda. Anda tidak tahu keinginan anda.
Sudah nampak peta masa depan kehidupan anda di sini?
Sudah nampak pekerjaan besar di depan mata?
Masih mau berpikir bagaimana nasib karir intelektual, retorika dan wacana sakti anda sebentar lagi dihadapan panser-panser globalisasi ?
Bila KIAMAT INDONESIA datang, maka terbuktilah apa yang telah diwasiatkan oleh Nuh. “Globalisasi ibarat banjir besar yang menghantam ke segala arah.
Nuh tidak akan pernah membuat bahtera jika ia tidak tahu perihal datangnya banjir itu. Nuh membuat bahtera karena ia tahu banjir itu dan apa banjir itu. (man of vision). Maka ketika banjir globalisasi datang nanti benarkah “bahtera Nuh” sudah siap sedia di atas bumi hari ini ? Benarkah ada mereka yang telah berpandangan jauh tentang kedatangan gelombang ini ? Bukalah pikiran anda seluas-luasnya dan pikirkan, itu tugas anda”.
--------------------------------------------------------
Bagaimana kamu akan melawan musuh mu jika kamu tidak tahu siapa musuh mu. Lawanlah ketidakpengetahuanmu ! Kenali ! dan itu bukan harga yang sedikit.

